CreePy Notes

CreePy Notes
READ AND ENJOY THE STORY!!

Minggu, 24 Juli 2016

Smell (1)

Aku merebahkan diriku di kasur. Sambil menepuk-nepuk kasur dan memejamkan mata. Hari ini benar-benar melelahkan. Lelah hingga aku tak sanggup untuk tidur. Tiba-tiba Aku terperanjat.
Aku mencium sesuatu yang menjijikan.
Sesuatu seperti bau kotoran. Entah itu apa.

Kasurku mempunyai kolong. Jadi aku mengintip kolong kasurku mengharapkan ada sesuatu. Namun, sia-sia.
Jadi aku keluar kamar dan berlari mencari spray pengharum ruangan di atas lemari. Oh, tidak..
Baunya semakin menjalar ke seluruh ruangan.
Aku kesal dan membuka semua jendela agar bau aneh itu hilang.
Namun sayangnya bau itu masih melekat. Aku mengganti semua bajuku dan membersihkan ruangan. Mungkin ada kotoran tikus atau kecoak. Menjijikan sekali.

Saat aku mengepel lantai, aku melihat sehelai rambut di pojok ruangan. Sehelai rambut yang sangat tipis dan berwarna kemerahan. Mungkin merah
Krimson. Yah, untuk apa aku peduli?
Aku memegang rambut itu dan ternyata rambut itu melekat di lantai. Untuk menariknya keluar, aku butuh linggis dan palu.

Aku keluar dari rumahku dan pergi ke tetangga sebelah, Mr. Clarks. Dia tinggal bersama istrinya yang sedikit emosional. Mr. Clarks adalah tukang kayu. Pastinya dia punya linggis dan palu. 
Kebetulan Mr. Clarks sedang duduk bersantai dirumahnya. Aku berbincang dan berbasa-basi sebentar sebelum meminjam barang yang kuperlukan.
Untungnya hari ini Mr. Clarks tidak bekerja hari ini jadi dia membolehkanku meminjam peralatannya.

"Ms. Layne? Untuk apa semua ini? Sepertinya sibuk sekali. Lebih baik kamu duduk bersantai menikmati hari yang cerah ini. " ujarnya sembari tertawa.
Aku tersenyum kecil dan menggeleng pelan.
" Ah, tak apa-apa Mr.  Saya ingin membetulkan ubin lantai sebentar. Kalau begitu saya permisi. " pamitku dan buru-buru masuk kerumah dan melakukan apa yang harus kukerjakan.
" Uuuph.." aku menahan napas. Oh my.. baunya sudah mampu membuat aku muntah. Aku pun mengeluarkan isi perutku di luar rumah. Aku muntah sambil terbatuk-batuk.
Untung saja jarakku dengan tetangga begitu jauh sehingga suaraku tak begitu berisik.

To be continued..

Minggu, 12 Juni 2016

Message?

Remi mengambil laptopnya dan mulai membukanya. Dengan cekatan dia mengetik dan memposting beberapa foto ke social media. Belum semenit, sudah ratusan like yang dia dapatkan. Wajar saja, Followersnya sudah lebih dari 1000 orang.
Puluhan komentar memenuhi ponselnya. Remi memang sombong dan menyebalkan. Ditambah ia sering menindas yang jauh lebih
Lemah. Remi tertawa kecil. Dia senang sekali menjadi primadona di Social media maupun di lingkungannya.

Ping!
Sebuah pesan masuk pun muncul di Messengernya.
"Huh. Pasti minta followback atau minta no.ponsel. Ih" Desisnya sambil menghapus pesan yamg didapatnya.
Saat menghapus, Ponselnya tiba-tiba berbunyi. Dengan malas Remi mengangkat telepon yang masuk.
"Ck. Hallo? Siapa ini?" Sapanya dengan kasar. Namun hanya keheningan yang menjawab.
"Ah! Telepon iseng!" Marahnya lalu membanting ponselnya ke sofa.

ping! Ping!
Lagi-lagi ada pesan masuk dari pengirim yang sama. Remi melihat nama pengirim dengan bingung.
"DarkLUce666?? Pfft! Kampungan sekali! Dia benar-benar mengidolakanku!" Kara Remi sambil tertawa meremehkan.
Remi membuka pesan yang pertama.

DarkLUce666 : Aku tahu kamu menghapus pesanku.Jangan meremehkanku.

Mata Remi membelalak. Darimana dia tahu? Apa dia stalker? Menjijikan!
Dengan takut-takut Remi membaca pesan kedua.

DarkLUce666 : Aku menunggumu..

Remi memukul bantal yang sedari tadi ada di sampingnya.
"Ah. Ahahaha... lucu. Lucu sekali. Aku tahu dia pasti sinting!"

Ping!
Remi tanpa kata-kata langsung membuka pesan. Ternyata itu video. Ia membukanya.

Video diputar. Seorang laki-laki memakai topeng. Wajah Remi pucat. Topeng yang dipakainya adalah wajah Remi!!
Anak laki-laki itu menggunakan efek suara aneh. "Hello... aku baru saja dipanggil dengan kata sinting dam kampungan."
ucapnya sambil mengambil foto Remi yang hanya separuh telanjang. Remi terbelalak kaget. Darimana ia mendapat foto semacam itu! Dia stalker!
"Kamu tahu ini apa? " kata laki-laki itu sambil memegang pisau berlumur darah
Remi menelan ludah sambil menangis. Di belakang laki-laki itu ada mayat orangtuanya yang sudah membusuk.
"Yah.. keluarga bahagia... " Ucapnya sambil tertawa.
Remi menjerit histeris sambil memukul laptopnya.

"SIAPA KAMUU!?!? "jeritnya tertahan ketika melihat Laki-laki bejat itu menyuruh Remi menengok kebelakang.
Dengan hati yang berdegup kencang. Remi menoleh.
Dia melihat Laki-laki itu didepannya memegang gergaji mesin.

"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!"

Kamis, 17 Maret 2016

FACE

Aku menghela napas untuk kesekian kalinya. Ini sudah 2x aku mendapat hal seperti ini..
bisakah dia berhenti dan tidak membuatku bosan?
Dengan perlahan kubuka jendela kamar agar mendapat angin yang sejuk. Setidaknya ini membantuku agar tidak merasa stress.
Oh, ayolah.. sampai kapan dia melakukan itu? Rasanya aku ingin menendangnya keluar dari kamarku. Tapi aku tak bisa. Aku harus berpura-pura tidak melihatnya. Karena dia tidak tahu bahwa aku bisa melihatnya. Holy Sh*t??
Dia melakukan itu lagi? Baunya sangat menjijikan. Baunya sudah menyebar kemana-mana! Apa dia gila?
Aku menepis pikiranku yang berkecamuk dan mulai berjalan kearah kasurku. Aku merebahkan diri diatas kasur dan mencoba untuk tidur sejenak. Pikiranku kacau saat ini.

saat kubuka mata. Aku berpura-pura mengambil selimut dan sempat melihat apa yang dilakukannya. Dan aku sempat menarik sudut bibirku. Wajahnya tepat didepan wajahku. Kuyakin wajahnya pasti hancur. Matanya memerah pekat dan dia tersenyum dengan sangat lebar dan tidak normal. Tiba-tiba , telapak tanganku tergores sesuatu. Kurasa Goresan itu membentuk sebuah kalimat. Aku menggigit bibirku menahan rasa sakit. Dia mendekatkan dirinya sambil melihat dalam-dalam mataku.
darah perlahan-lahan memenuhi telapak tanganku. Membuat tulisan itu tidak terlihat olehku. Bukannya menjauh, dia melakukan hal yang menjijikan. Dia menjilat bibirnya lalu memutar kepalanya 180 derajat. Akhirnya aku dapat melihat tulisan di telapak tanganku. Setelah kubaca, aku menelan ludah dengan gugup.

"AKU TAHU KAU MELIHATKU"

Sabtu, 27 Februari 2016

KORARA

Di sudut sebuah tempat. Ada sebuah kota kecil. Kota yang jarang dilewati orang banyak. Semakin bertambahnya waktu, tempat itu semakin dilupakan orang banyak. Bahkan pemerintah tidak mau banyak mengurus banyak hal tentang kota itu. Seakan-akan kota itu dikucilkan dan dilupakan. Ditambah Semua penduduk dikota itu bertingkah dengan tidak semestinya. Kota itu bersinar sekitar tahun 1967. Namun beberapa dekade kemudian, penghuni kota itu mulai sepi dan pergi seperti debu dan tidak diketahui lagi keberadaannya.Entah apa penyebabnya. Penduduk yang tersisa di kota itu seperti menyimpan misteri. Ditambah minimnya pencahayaan membuat kesan yang tidak bisa dijelaskan pada kota itu.

Aku satu-satunya orang yang tertarik dengan kota itu. Apa yang membuatku tertarik? sebenarnya aku ingin mencari sesuatu di kota itu. Malam ini aku berniat pergi ke kota tersebut untuk mencarinya. Aku memakai jaket tebal untuk menutupi tubuhku karena udara semakin dingin.
Aku menelusuri kota itu dengan sepeda motor. Kuusahakan agar suara mesin sepeda motorku ini tidak terlalu menganggu kota ini. Jalannya sangat luas, sehingga suara mesin motorku ini menggema dengan pelan memasuki kota ini. Hanya ada satu atau dua lampu saja yang bisa menerangi penglihatanku. Pertanyaan pun melintas dibenakku, mengapa kota ini lebih sepi daripada biasanya? Bahkan aku belum menemukan 1 orang pun.

Tiba-tiba ada sebuah toko yang masih buka. Aku berhenti didepan toko itu dan memarkir motorku. Aku mengancing semua jaketku. Malam ini sangat dingin sehingga rasa dingin itu menusuk tulangku. Aku melihat seorang wanita paruh baya melewati pintu. Aku bergumam dan menarik sudut bibirku. Dia membawa sekantung penuh barang. Aku bergegas membantunya membawa itu.
"Ups, maaf bu. Biar kubantu anda." Ucapku senormal mungkin. Ibu itu terlihat kaget dan mengangguk pelan, dia membiarkanku untuk membawa kantungnya.
"Tolong taruh saja didepan meja itu." Ucap ibu itu sambil memasuki toko tersebut. Toko itu sangat gelap. Toko yang kumasuki adalah tempat yang kurang kusuka. Toko ini menjual beberapa peralatan untuk ibu rumah tangga. Dan entah mengapa dinding toko ini penuh dengan bercak coklat kemerahan. Aku merinding sesaat. Wajah ibu itu terlihat tidak nyaman. Mungkin dia punya niat sesuatu.
Aku menaruh belanjaan ibu tadi di atas meja. Perlahan-lahan aku merasakan hal yang aneh. Ibu itu mengasah sebuah pisau di sudut toko, aku terperanjat kaget. Apa yang dia inginkan?! Aku merasakan tatapan yang menusuk. Dengan cepat aku mendorong ibu tadi dengan keras. Ibu itu terjatuh dan menatapku dengan takut.
"Sudah kuduga !! Mau apa kamu!?" Bentak ibu tadi sambil berusaha berlari. Aku tersenyum dengan lebar dan membuka jaketku. Kuperlihatkan Tubuhku yang penuh dengan bekas jahitan dan kasar. Banyak bintik bintik merah bernanah di tubuhku. Tiba-tiba dikulit tubuhku muncul lubang-lubang kecil dan Penuh dengan darah. Ibu tua tadi menangis dan berusaha mengambil pisau itu.

DAGH!!!
Aku menendang tubuhnya dan mencabik kakinya. Dia menjerit penuh kesakitan. Kakinya hanya terlihat setengah. Darahnya mengalir dimana-mana.

Aku tertawa dan mengambil alih pisau tajam itu. Kemudian Aku mengiris pelan kepala ibu itu. Dia menjerit lagi sampai akhirnya suaranya lenyap. Setelah itu aku mencongkel matanya dan memakannya. Semakin banyak aku memakan organ tubuhnya yang lezat, semakin sedikit lubang yang terdapat ditubuhku. Aku akan memakan kulitnya nanti, aku mulai mengambil ususnya dan memotongnya kecil-kecil lalu memakannya seperti memakan permen. Rasanya lebih enak dan lezat ditambah darahnya yang berceceran di lantai.

Di malam yang semakin dingin, hanya ada suara cecapan lidah yang sedang menikmati makanannya. Tiba-tiba Lampu-lampu padam menambah dinginnya kota itu.
Alasan kota korara seperti ini karena hampir seluruh penduduknya mengalami hal yang sama sepertiku.


Jumat, 19 Februari 2016

mirror

Aku merasa aneh dengan cermin dirumahku. Bukan karena takut hantu atau sejenisnya. Hanya saja. Entah mengapa aku merinding melewati cermin didepan kamar mandi. Rasanya cermin itu sangat aneh. Bingkainya selalu terlihat kotor. Meskipun sudah berkali-kali aku bersihkan dan aku ganti tetap saja kotor. Benar-benar sangat aneh. Aku pergi ke toko untuk membeli cermin baru. Cermin yang lebih minimalis dan indah. Saat memasuki toko itu. Seorang pramuniaga mengangguk dan mengucapkan salam seperti biasa.

"Selamat siang Nona. Ada yang bisa saya bantu?' Aku mengangguk dengan sopan sambil tersenyum kecil.
"Aku butuh sebuah cermin dengan model yang minimalis." Pramuniaga itu mengangguk pelan dan mulai menunjukan beberapa model yang aku inginkan. Mataku tertuju pada satu model cermin yang menarik.

"Ehm..ini model apa ya?" Pramuniaga itu tersenyum kecil mendengar pertanyaanku.
"Maaf, cermin model ini sudah habis terjual minggu lalu. Kami belum menambah stoknya lagi." Ucap pramuniaga itu. Kemudian dia membawaku ke tempat cermin yang bermodel lain.
"Bagaimana dengan model ini? Ini model yang simple dan cocok untuk Nona" ucapnya sambil menunjukan salah satu cermin.Akhirnya pilihanku jatuh pada cermin yang berbentuk persegipanjang. Bingkainya bermodel simple dan bergaris-garis. Warnanya coklat kemerahan. Merahnya sangat terlihat.

Aku membawa pulang cermin baruku itu. Setelah aku memasuki rumahku. Aku membuka plastik dan bungkus cerminnya. Cermin itu kupasang di depan kamar mandi. Cermin lama aku buang ke tempat sampah. Setelah 10 menit aku perhatikan cermin baru, tiba-tiba cermin itu berdebu. Terdapat bayang-bayang hitam disana. Aku mengelap cermin itu berkali-kali. Tapi debu itu tidak mau hilang. Aku merasakan bayang-bayang atau debu itu semakin jelas.

setelah beberapa detik. Aku menyadari sesuatu. Sebenarnya bukan cermin itulah yang kotor..

Senin, 08 Februari 2016

Mandy

Konsentrasilah! mulai besok, ujian akan diadakan! Aku memaksa otakku untuk menghapal rumus gila ini. Tiba-tiba Mandy datang kearahku dan memberikan sebuah buku tebal.
" ini, buku yang kupinjam beberapa hari yang lalu." Wajahnya datar tanpa ekspresi, itulah Mandy. Asal kau tahu, Dia sangat galak. Menatap matanya saja sudah membuatku merinding.
"hmm... oke, Oh ya. kau tidak belajar untuk ulangan besok?" Tanyaku. Aku bermaksud mengajaknya belajar bersama, Mandy itu anak yang jenius. Semua nilai ujiannya A++. Dia tidak pernah mendapat B atau C. Sedangkan aku? entah mengapa aku selalu mendapat D atau F. Miris!
"Asal kau tahu, aku tidak ingin belajar bersamamu, Kinda." Ucap Mandy datar. Aku tahu dia tidak menyukaiku. Aku anak yang malas dan konyol. Aku juga anak yang usil, Hampir setiap hari aku mengusili Mandy.
" Hahaha.. Aku tahu kau tidak bisa melepaskan sepatumu sekarang, karena aku yang mengolesi lem di sepatumu. Hahaha.." Mata Mandy berubah menjadi menyeramkan.
"Kinda, Dimalam hari nanti, aku ingin tidur nyenyak. Awas saja jika kau mengangguku. Akan terjadi masalah yang sangat buruk.Kau akan menyesal jika membangunkanku." Ancam Mandy sambil menatapku tajam. Aku menelan ludahku. Tapi, aku penasaran juga apa yang akan dilakukan Mandy jika aku membangunkannya. Aku tertawa kecil dalam hati.
Malam harinya, Aku menyusup ke kamar Mandy. Aku berjalan pelan-pelan ke kasurnya. Aku berniat membuatnya terkejut. aku membuka selimutnya. Wajahnya tidak kelihatan dan hanya tubuhnya saja yang kulihat. aneh? Mungkin karena gelap? Aku merasa lemas di saat itu juga dan mengurungkan niatku untuk menjahili Mandy.

Keesokannya, saat di sekolah. Aku melihat Mandy sedang duduk di kursi kantin. Dia sedang membaca buku. Aku menyapanya. "Hello Mandy! kemarin malam aku ada ke kamarmu. Kau tertidur sangat pulas." Mandy terkekeh kecil.
"bohong.." ucapnya. aku menatap matanya lekat-lekat.
"Benar! aku benar-benar ke kamarmu tahu!! aku melihatmu tidur di kasur pink dengan pulas!" ucapku dengan lantang.
"kau bohong, aku tak ada disana." ucap Mandy sambil terkekeh. huh! dia meremehkanku! tunggu. dia tak ada disana??
"Aku tidur di rumah Kenny. Aku sudah tahu pasti kau akan menjahiliku." ucap Mandy lalu pergi begitu saja.

ya, kurasa tak ada yang aneh. Tunggu, siapa yang tidur diatas kasurnya waktu itu!?

19

Alunan lagu "Happy birthday" membuat telinga Karen sakit. Dia merasa sangat sial di hari ulang tahunnya. 1 Tahun lalu, di hari ulang tahunnya. seharusnya dia mendapatkan kesenangan dan kegembiraan. Namun yang justru dia dapatkan adalah kecelakaan. Tangannya tertusuk jarum 18 kali dan kakinya terkena silet 18 kali. jarum dan silet itu Seolah-olah ikut merayakan hari ulang tahun Karen. Tahun ini, Karen berulang tahun ke 19. Karen tidak berani keluar rumah barang sedikitpun. Kejadian aneh itu sudah mengikutinya sejak ia berumur 17 tahun. Dia menjadi paranoid. Bahkan sekarang kaki dan kedua tangannya belum berfungsi dengan optimal akibat dari kecelakaan itu.
Keluarga Karen menganggap ini adalah kecelakaan yang tidak disengaja. Mereka tidak pernah menganggap kejadian ini benar-benar serius. Lagipula keluarga Karen adalah keluarga yang mempuyai banyak harta. Mereka lebih sibuk mengejar harta, harta, dan harta!

"Damn! mereka tidak pernah merasakan apa penderitaanku selama ini! Aku benci! Aku benciii!!" Tangis Karen.
"Seandainya mereka semua mati!! Aku benci mereka!!" Teriaknya histeris. Tiba-tiba terdengar bunyi ketukan pintu.
"silahkan masuk!" bentak Karen dengan kasar. Ternyata yang mengetuknya adalah Ibunya, Karen terkejut dan membungkuk pelan.
"maafk-" Permintaan maaf Karen terpotong. Karen mengangkat wajahnya. Ibunya datang membawakan kue ulang tahun berwarna merah. Karen mencium bau yang aneh.
"makanlah, nak.." Ucap Ibunya sambil membelai kepala Karen dengan lembut.
Karen melihat kue itu sambil mengambil garpu. Ibunya kemudian merebut garpu Karen dengan cepat.

Karen terkejut ketika garpu itu menusuk matanya.
darah bercucuran dimana-mana.
"AAAAAAAA!!!! AAAAAAAAAHHHH! TIDAAAK!MATAKUUUU!!" Jeritnya melengking. Ibunya tertawa sambil tersenyum kejam. Dia menusuk mata Karen dan mencabutnya. Teriakan dari mukut Karen tidak membuatnya berhenti. kaki dan tangan Karen meronta-ronta.
"Happy birthday!kau yang akan menjadi kue selanjutnya!!! hahahahahaa..." Ibunya menusuk dan mencabut garpunya dari mata Karen berkali-kali sambil menghitungnya.
" 1.........2..........3.........4........"