Di sudut sebuah tempat. Ada sebuah kota kecil. Kota yang jarang dilewati orang banyak. Semakin bertambahnya waktu, tempat itu semakin dilupakan orang banyak. Bahkan pemerintah tidak mau banyak mengurus banyak hal tentang kota itu. Seakan-akan kota itu dikucilkan dan dilupakan. Ditambah Semua penduduk dikota itu bertingkah dengan tidak semestinya. Kota itu bersinar sekitar tahun 1967. Namun beberapa dekade kemudian, penghuni kota itu mulai sepi dan pergi seperti debu dan tidak diketahui lagi keberadaannya.Entah apa penyebabnya. Penduduk yang tersisa di kota itu seperti menyimpan misteri. Ditambah minimnya pencahayaan membuat kesan yang tidak bisa dijelaskan pada kota itu.
Aku satu-satunya orang yang tertarik dengan kota itu. Apa yang membuatku tertarik? sebenarnya aku ingin mencari sesuatu di kota itu. Malam ini aku berniat pergi ke kota tersebut untuk mencarinya. Aku memakai jaket tebal untuk menutupi tubuhku karena udara semakin dingin.
Aku menelusuri kota itu dengan sepeda motor. Kuusahakan agar suara mesin sepeda motorku ini tidak terlalu menganggu kota ini. Jalannya sangat luas, sehingga suara mesin motorku ini menggema dengan pelan memasuki kota ini. Hanya ada satu atau dua lampu saja yang bisa menerangi penglihatanku. Pertanyaan pun melintas dibenakku, mengapa kota ini lebih sepi daripada biasanya? Bahkan aku belum menemukan 1 orang pun.
Tiba-tiba ada sebuah toko yang masih buka. Aku berhenti didepan toko itu dan memarkir motorku. Aku mengancing semua jaketku. Malam ini sangat dingin sehingga rasa dingin itu menusuk tulangku. Aku melihat seorang wanita paruh baya melewati pintu. Aku bergumam dan menarik sudut bibirku. Dia membawa sekantung penuh barang. Aku bergegas membantunya membawa itu.
"Ups, maaf bu. Biar kubantu anda." Ucapku senormal mungkin. Ibu itu terlihat kaget dan mengangguk pelan, dia membiarkanku untuk membawa kantungnya.
"Tolong taruh saja didepan meja itu." Ucap ibu itu sambil memasuki toko tersebut. Toko itu sangat gelap. Toko yang kumasuki adalah tempat yang kurang kusuka. Toko ini menjual beberapa peralatan untuk ibu rumah tangga. Dan entah mengapa dinding toko ini penuh dengan bercak coklat kemerahan. Aku merinding sesaat. Wajah ibu itu terlihat tidak nyaman. Mungkin dia punya niat sesuatu.
Aku menaruh belanjaan ibu tadi di atas meja. Perlahan-lahan aku merasakan hal yang aneh. Ibu itu mengasah sebuah pisau di sudut toko, aku terperanjat kaget. Apa yang dia inginkan?! Aku merasakan tatapan yang menusuk. Dengan cepat aku mendorong ibu tadi dengan keras. Ibu itu terjatuh dan menatapku dengan takut.
"Sudah kuduga !! Mau apa kamu!?" Bentak ibu tadi sambil berusaha berlari. Aku tersenyum dengan lebar dan membuka jaketku. Kuperlihatkan Tubuhku yang penuh dengan bekas jahitan dan kasar. Banyak bintik bintik merah bernanah di tubuhku. Tiba-tiba dikulit tubuhku muncul lubang-lubang kecil dan Penuh dengan darah. Ibu tua tadi menangis dan berusaha mengambil pisau itu.
DAGH!!!
Aku menendang tubuhnya dan mencabik kakinya. Dia menjerit penuh kesakitan. Kakinya hanya terlihat setengah. Darahnya mengalir dimana-mana.
Aku tertawa dan mengambil alih pisau tajam itu. Kemudian Aku mengiris pelan kepala ibu itu. Dia menjerit lagi sampai akhirnya suaranya lenyap. Setelah itu aku mencongkel matanya dan memakannya. Semakin banyak aku memakan organ tubuhnya yang lezat, semakin sedikit lubang yang terdapat ditubuhku. Aku akan memakan kulitnya nanti, aku mulai mengambil ususnya dan memotongnya kecil-kecil lalu memakannya seperti memakan permen. Rasanya lebih enak dan lezat ditambah darahnya yang berceceran di lantai.
Di malam yang semakin dingin, hanya ada suara cecapan lidah yang sedang menikmati makanannya. Tiba-tiba Lampu-lampu padam menambah dinginnya kota itu.
Alasan kota korara seperti ini karena hampir seluruh penduduknya mengalami hal yang sama sepertiku.
CreePy Notes
READ AND ENJOY THE STORY!!
Sabtu, 27 Februari 2016
Jumat, 19 Februari 2016
mirror
Aku merasa aneh dengan cermin dirumahku. Bukan karena takut hantu atau sejenisnya. Hanya saja. Entah mengapa aku merinding melewati cermin didepan kamar mandi. Rasanya cermin itu sangat aneh. Bingkainya selalu terlihat kotor. Meskipun sudah berkali-kali aku bersihkan dan aku ganti tetap saja kotor. Benar-benar sangat aneh. Aku pergi ke toko untuk membeli cermin baru. Cermin yang lebih minimalis dan indah. Saat memasuki toko itu. Seorang pramuniaga mengangguk dan mengucapkan salam seperti biasa.
"Selamat siang Nona. Ada yang bisa saya bantu?' Aku mengangguk dengan sopan sambil tersenyum kecil.
"Aku butuh sebuah cermin dengan model yang minimalis." Pramuniaga itu mengangguk pelan dan mulai menunjukan beberapa model yang aku inginkan. Mataku tertuju pada satu model cermin yang menarik.
"Ehm..ini model apa ya?" Pramuniaga itu tersenyum kecil mendengar pertanyaanku.
"Maaf, cermin model ini sudah habis terjual minggu lalu. Kami belum menambah stoknya lagi." Ucap pramuniaga itu. Kemudian dia membawaku ke tempat cermin yang bermodel lain.
"Bagaimana dengan model ini? Ini model yang simple dan cocok untuk Nona" ucapnya sambil menunjukan salah satu cermin.Akhirnya pilihanku jatuh pada cermin yang berbentuk persegipanjang. Bingkainya bermodel simple dan bergaris-garis. Warnanya coklat kemerahan. Merahnya sangat terlihat.
Aku membawa pulang cermin baruku itu. Setelah aku memasuki rumahku. Aku membuka plastik dan bungkus cerminnya. Cermin itu kupasang di depan kamar mandi. Cermin lama aku buang ke tempat sampah. Setelah 10 menit aku perhatikan cermin baru, tiba-tiba cermin itu berdebu. Terdapat bayang-bayang hitam disana. Aku mengelap cermin itu berkali-kali. Tapi debu itu tidak mau hilang. Aku merasakan bayang-bayang atau debu itu semakin jelas.
setelah beberapa detik. Aku menyadari sesuatu. Sebenarnya bukan cermin itulah yang kotor..
"Selamat siang Nona. Ada yang bisa saya bantu?' Aku mengangguk dengan sopan sambil tersenyum kecil.
"Aku butuh sebuah cermin dengan model yang minimalis." Pramuniaga itu mengangguk pelan dan mulai menunjukan beberapa model yang aku inginkan. Mataku tertuju pada satu model cermin yang menarik.
"Ehm..ini model apa ya?" Pramuniaga itu tersenyum kecil mendengar pertanyaanku.
"Maaf, cermin model ini sudah habis terjual minggu lalu. Kami belum menambah stoknya lagi." Ucap pramuniaga itu. Kemudian dia membawaku ke tempat cermin yang bermodel lain.
"Bagaimana dengan model ini? Ini model yang simple dan cocok untuk Nona" ucapnya sambil menunjukan salah satu cermin.Akhirnya pilihanku jatuh pada cermin yang berbentuk persegipanjang. Bingkainya bermodel simple dan bergaris-garis. Warnanya coklat kemerahan. Merahnya sangat terlihat.
Aku membawa pulang cermin baruku itu. Setelah aku memasuki rumahku. Aku membuka plastik dan bungkus cerminnya. Cermin itu kupasang di depan kamar mandi. Cermin lama aku buang ke tempat sampah. Setelah 10 menit aku perhatikan cermin baru, tiba-tiba cermin itu berdebu. Terdapat bayang-bayang hitam disana. Aku mengelap cermin itu berkali-kali. Tapi debu itu tidak mau hilang. Aku merasakan bayang-bayang atau debu itu semakin jelas.
setelah beberapa detik. Aku menyadari sesuatu. Sebenarnya bukan cermin itulah yang kotor..
Senin, 08 Februari 2016
Mandy
Konsentrasilah! mulai besok, ujian akan diadakan! Aku memaksa otakku untuk menghapal rumus gila ini. Tiba-tiba Mandy datang kearahku dan memberikan sebuah buku tebal.
" ini, buku yang kupinjam beberapa hari yang lalu." Wajahnya datar tanpa ekspresi, itulah Mandy. Asal kau tahu, Dia sangat galak. Menatap matanya saja sudah membuatku merinding.
"hmm... oke, Oh ya. kau tidak belajar untuk ulangan besok?" Tanyaku. Aku bermaksud mengajaknya belajar bersama, Mandy itu anak yang jenius. Semua nilai ujiannya A++. Dia tidak pernah mendapat B atau C. Sedangkan aku? entah mengapa aku selalu mendapat D atau F. Miris!
"Asal kau tahu, aku tidak ingin belajar bersamamu, Kinda." Ucap Mandy datar. Aku tahu dia tidak menyukaiku. Aku anak yang malas dan konyol. Aku juga anak yang usil, Hampir setiap hari aku mengusili Mandy.
" Hahaha.. Aku tahu kau tidak bisa melepaskan sepatumu sekarang, karena aku yang mengolesi lem di sepatumu. Hahaha.." Mata Mandy berubah menjadi menyeramkan.
"Kinda, Dimalam hari nanti, aku ingin tidur nyenyak. Awas saja jika kau mengangguku. Akan terjadi masalah yang sangat buruk.Kau akan menyesal jika membangunkanku." Ancam Mandy sambil menatapku tajam. Aku menelan ludahku. Tapi, aku penasaran juga apa yang akan dilakukan Mandy jika aku membangunkannya. Aku tertawa kecil dalam hati.
Malam harinya, Aku menyusup ke kamar Mandy. Aku berjalan pelan-pelan ke kasurnya. Aku berniat membuatnya terkejut. aku membuka selimutnya. Wajahnya tidak kelihatan dan hanya tubuhnya saja yang kulihat. aneh? Mungkin karena gelap? Aku merasa lemas di saat itu juga dan mengurungkan niatku untuk menjahili Mandy.
Keesokannya, saat di sekolah. Aku melihat Mandy sedang duduk di kursi kantin. Dia sedang membaca buku. Aku menyapanya. "Hello Mandy! kemarin malam aku ada ke kamarmu. Kau tertidur sangat pulas." Mandy terkekeh kecil.
"bohong.." ucapnya. aku menatap matanya lekat-lekat.
"Benar! aku benar-benar ke kamarmu tahu!! aku melihatmu tidur di kasur pink dengan pulas!" ucapku dengan lantang.
"kau bohong, aku tak ada disana." ucap Mandy sambil terkekeh. huh! dia meremehkanku! tunggu. dia tak ada disana??
"Aku tidur di rumah Kenny. Aku sudah tahu pasti kau akan menjahiliku." ucap Mandy lalu pergi begitu saja.
ya, kurasa tak ada yang aneh. Tunggu, siapa yang tidur diatas kasurnya waktu itu!?
" ini, buku yang kupinjam beberapa hari yang lalu." Wajahnya datar tanpa ekspresi, itulah Mandy. Asal kau tahu, Dia sangat galak. Menatap matanya saja sudah membuatku merinding.
"hmm... oke, Oh ya. kau tidak belajar untuk ulangan besok?" Tanyaku. Aku bermaksud mengajaknya belajar bersama, Mandy itu anak yang jenius. Semua nilai ujiannya A++. Dia tidak pernah mendapat B atau C. Sedangkan aku? entah mengapa aku selalu mendapat D atau F. Miris!
"Asal kau tahu, aku tidak ingin belajar bersamamu, Kinda." Ucap Mandy datar. Aku tahu dia tidak menyukaiku. Aku anak yang malas dan konyol. Aku juga anak yang usil, Hampir setiap hari aku mengusili Mandy.
" Hahaha.. Aku tahu kau tidak bisa melepaskan sepatumu sekarang, karena aku yang mengolesi lem di sepatumu. Hahaha.." Mata Mandy berubah menjadi menyeramkan.
"Kinda, Dimalam hari nanti, aku ingin tidur nyenyak. Awas saja jika kau mengangguku. Akan terjadi masalah yang sangat buruk.Kau akan menyesal jika membangunkanku." Ancam Mandy sambil menatapku tajam. Aku menelan ludahku. Tapi, aku penasaran juga apa yang akan dilakukan Mandy jika aku membangunkannya. Aku tertawa kecil dalam hati.
Malam harinya, Aku menyusup ke kamar Mandy. Aku berjalan pelan-pelan ke kasurnya. Aku berniat membuatnya terkejut. aku membuka selimutnya. Wajahnya tidak kelihatan dan hanya tubuhnya saja yang kulihat. aneh? Mungkin karena gelap? Aku merasa lemas di saat itu juga dan mengurungkan niatku untuk menjahili Mandy.
Keesokannya, saat di sekolah. Aku melihat Mandy sedang duduk di kursi kantin. Dia sedang membaca buku. Aku menyapanya. "Hello Mandy! kemarin malam aku ada ke kamarmu. Kau tertidur sangat pulas." Mandy terkekeh kecil.
"bohong.." ucapnya. aku menatap matanya lekat-lekat.
"Benar! aku benar-benar ke kamarmu tahu!! aku melihatmu tidur di kasur pink dengan pulas!" ucapku dengan lantang.
"kau bohong, aku tak ada disana." ucap Mandy sambil terkekeh. huh! dia meremehkanku! tunggu. dia tak ada disana??
"Aku tidur di rumah Kenny. Aku sudah tahu pasti kau akan menjahiliku." ucap Mandy lalu pergi begitu saja.
ya, kurasa tak ada yang aneh. Tunggu, siapa yang tidur diatas kasurnya waktu itu!?
19
Alunan lagu "Happy birthday" membuat telinga Karen sakit. Dia merasa sangat sial di hari ulang tahunnya. 1 Tahun lalu, di hari ulang tahunnya. seharusnya dia mendapatkan kesenangan dan kegembiraan. Namun yang justru dia dapatkan adalah kecelakaan. Tangannya tertusuk jarum 18 kali dan kakinya terkena silet 18 kali. jarum dan silet itu Seolah-olah ikut merayakan hari ulang tahun Karen. Tahun ini, Karen berulang tahun ke 19. Karen tidak berani keluar rumah barang sedikitpun. Kejadian aneh itu sudah mengikutinya sejak ia berumur 17 tahun. Dia menjadi paranoid. Bahkan sekarang kaki dan kedua tangannya belum berfungsi dengan optimal akibat dari kecelakaan itu.
Keluarga Karen menganggap ini adalah kecelakaan yang tidak disengaja. Mereka tidak pernah menganggap kejadian ini benar-benar serius. Lagipula keluarga Karen adalah keluarga yang mempuyai banyak harta. Mereka lebih sibuk mengejar harta, harta, dan harta!
"Damn! mereka tidak pernah merasakan apa penderitaanku selama ini! Aku benci! Aku benciii!!" Tangis Karen.
"Seandainya mereka semua mati!! Aku benci mereka!!" Teriaknya histeris. Tiba-tiba terdengar bunyi ketukan pintu.
"silahkan masuk!" bentak Karen dengan kasar. Ternyata yang mengetuknya adalah Ibunya, Karen terkejut dan membungkuk pelan.
"maafk-" Permintaan maaf Karen terpotong. Karen mengangkat wajahnya. Ibunya datang membawakan kue ulang tahun berwarna merah. Karen mencium bau yang aneh.
"makanlah, nak.." Ucap Ibunya sambil membelai kepala Karen dengan lembut.
Karen melihat kue itu sambil mengambil garpu. Ibunya kemudian merebut garpu Karen dengan cepat.
Karen terkejut ketika garpu itu menusuk matanya.
darah bercucuran dimana-mana.
"AAAAAAAA!!!! AAAAAAAAAHHHH! TIDAAAK!MATAKUUUU!!" Jeritnya melengking. Ibunya tertawa sambil tersenyum kejam. Dia menusuk mata Karen dan mencabutnya. Teriakan dari mukut Karen tidak membuatnya berhenti. kaki dan tangan Karen meronta-ronta.
"Happy birthday!kau yang akan menjadi kue selanjutnya!!! hahahahahaa..." Ibunya menusuk dan mencabut garpunya dari mata Karen berkali-kali sambil menghitungnya.
" 1.........2..........3.........4........"
Keluarga Karen menganggap ini adalah kecelakaan yang tidak disengaja. Mereka tidak pernah menganggap kejadian ini benar-benar serius. Lagipula keluarga Karen adalah keluarga yang mempuyai banyak harta. Mereka lebih sibuk mengejar harta, harta, dan harta!
"Damn! mereka tidak pernah merasakan apa penderitaanku selama ini! Aku benci! Aku benciii!!" Tangis Karen.
"Seandainya mereka semua mati!! Aku benci mereka!!" Teriaknya histeris. Tiba-tiba terdengar bunyi ketukan pintu.
"silahkan masuk!" bentak Karen dengan kasar. Ternyata yang mengetuknya adalah Ibunya, Karen terkejut dan membungkuk pelan.
"maafk-" Permintaan maaf Karen terpotong. Karen mengangkat wajahnya. Ibunya datang membawakan kue ulang tahun berwarna merah. Karen mencium bau yang aneh.
"makanlah, nak.." Ucap Ibunya sambil membelai kepala Karen dengan lembut.
Karen melihat kue itu sambil mengambil garpu. Ibunya kemudian merebut garpu Karen dengan cepat.
Karen terkejut ketika garpu itu menusuk matanya.
darah bercucuran dimana-mana.
"AAAAAAAA!!!! AAAAAAAAAHHHH! TIDAAAK!MATAKUUUU!!" Jeritnya melengking. Ibunya tertawa sambil tersenyum kejam. Dia menusuk mata Karen dan mencabutnya. Teriakan dari mukut Karen tidak membuatnya berhenti. kaki dan tangan Karen meronta-ronta.
"Happy birthday!kau yang akan menjadi kue selanjutnya!!! hahahahahaa..." Ibunya menusuk dan mencabut garpunya dari mata Karen berkali-kali sambil menghitungnya.
" 1.........2..........3.........4........"
Langganan:
Postingan (Atom)