Napasku tidak beraturan , kepalaku mulai berimajinasi tentang itu. Sejenak aku berpikir. Apakah ia akan melakukan hal yang sama? Aku merebahkan tubuhku diatas meja dan menenangkan diri. Aku membuka tasku dan mengeluarkan buku bersampul hitam. Tiba-tiba Viane mengambil senter dan mengarahkannya padaku. Alisku mengeryit bingung. Viane menarik tanganku dengan cepat, aku membereskan isi tasku yang berantakan.
langkah demi langkah Viane berlari sambil menarik tanganku. Hanya cahaya senter yang menerangi jalan kami di koridor.
Mulutku terasa gatal ingin menanyakan maksud Viane menarikku tadi. Tapi seakan-akan Viane menyuruhku diam dan mengikuti apa yang dia inginkan.
"Shhtt! Dyne, aku ingin kita pergi dari tempat ini! lupakan tentang penelitianmu itu!" bisik Viane sambil tetap membawaku pergi. Aneh, mengapa tangannya berkeringat dingin?
"Hah!? What the Hell? kita baru saja memulai ini!" bisikku sambil mendengus marah. Viane menunjukan tangannya yang berdarah, maksudku JARI TANGANNYA HILANG?! entah terpotongkah? atau terluka?. aku terkejut sambil menatap Viane tidak percaya.
"Apa maksudmu, Viane? APA YANG MEREKA LAKUKAN!?? kau bertemu dengan mereka?!" Bentakku marah sambil berlari meninggalkan Viane sambil menelepon Mad. Aku harus beritahu mereka, segera tinggalkan bangunan ini! SEGERA!
Aku menelepon Mad dengan handphoneku. ini bahaya!
" Hai? bagaimana penelitian kita? apa benar sekolah itu berhantu? apa benar hampir sebagian murid meninggal?bagaimana roh mereka? apa mayat mereka berserakan di setiap koridor? aku menelepon pemilik bangunan itu jam 11.00 pm lalu. kata beliau, mayat itu masih berserakan di setiap sudut sekolah dan dibiarkan begitu saja! waw! " Mad masih saja bercerita.
"Mad, suruh sem- eh, mayat? bukankah dari tadi aku tidak melihat i-"
TUUT..TUT...
aku menoleh kebelakang dan melihat Viane melempar ponselku hingga hancur berantakan.
mataku membelalak tidak percaya. tubuh Viane hancur berantakan, darahnya menciprat ke seluruh tubuhku.
" kau masih tidak tahu siapa aku?" kata Viane dengan suara yang mengerikan. sekarang aku mengerti mengapa mayat itu hilang begitu saja.
-END-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar